Kamis, 30 April 2015

LESSON PLAN TEORI PENGEMBANGAN WAHANA/ FORUM PERAN SERTA MASYARAKAT


LESSON PLAN TEORI

Program Studi           : D IV Bidan Pendidik
Mata Kuliah              : ASKEB KOMUNITAS
Topik                          : Pengembangan Wahana /Forum PSM
LP No.                        : Pertemuan Ke-1
Waktu                        : 2x50
Dosen                          : Devi Haliyanti Subagio, Am.Keb                         

Objektif dari Silabus :
Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan mampu menggerakan dan meningkatkan peran serta masyarakat dengan benar.

Sumber Pustaka                    :
1.    Karwati,dkk. (2011). Asuhan Kebidanan V Komunitas.Jakarta : CV. Trans Info Media
2.    Meliani, Niken, dkk. (2009). Kebidanan Komunitas.Yogyakarta: Fitramaya
3.    Mubarak, Wahit Iqbal. (2012). Ilmu Kesehatan Masyarakat:  Konsep dan Aplikasi dalam Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika

Bahan dan Sumber               :
1.      LCD
2.      Hand Out
3.      SOP
4.      Papan Tulis
5.      Spidol


Waktu
Isi
Metoda & Alat Bantu


7 menit

PENDAHULUAN
1.    Mengucapkan salam
2.    Menayangkan sebuah gambar kemudian menanyakan kepada mahasiswa apa yang bisa ditangkap dari gambar tersebut.
3.    Dosen menanyakan tentang topik yang lalu mengenai asuhan kebidanan komunitas kemudian menghubungkannya dengan topik yang akan dibahas.
4.    Menyebutkan OPS
5.    Menyebutkan garis besar materi yang akan disampaikan.
6.    Menjelaskan bahwa materi ini merupakan materi yang sangat penting untuk dipahami oleh mahasiswa sebagai bekal praktek saat dilahan praktek yang sesungguhnya.
7.    Menyebutkan referensi yang digunakan
Ceramah, Ilustratif, Tanya Jawab, Papan tulis dan LCD

METODA

Ceramah dan Tanya jawab

OBJEKTIF PRILAKU MAHASISWA
Setelah topik pembahasan selesai dibahas, mahasiswa diharapkan:
1.    Mampu menjelaskan wahana/ forum peran serta masyarakat dengan tepat.
2.    Mampu menjelaskan pembinaan peran serta masyarakat dengan tepat.


10 menit
URAIAN MATERI
Explanation:
       Dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi, banyak usaha telah dilakukan pemerintah dan tenaga kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan yang ada belum mampu mengatasi  permasalahan permasalahan yang ada. Peran serta masyarakat dalam meningkatkan kesehatan sebenarnya merupakan kunci penyeleseian masalah masalah kesehatan. Bidan sebagai petugas kesehatan diharapkan mampu menjangkau pelayananya sampai masyarakat. Untuk ektefitas peningkatan pelayanan kesehatan, bidan bekerja sama dengan masyarakat untuk berperan aktif dalam bidang kesehatan.
A.   Pengembangan Wahana/Forum PSM
1.      Posyandu
      Posyandu merupakan kegiatan nyata yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dari-oleh-untuk masyarakat yang dilaksanakan oleh kader. Kader yang ditugaskan adalah warga setempat yang telah dilatih oleh puskesmas.
      Posyandu merupakan suatu forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat oleh dan untuk masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana
Tujuan dari Posyandu :
a.    Menunjang percepatan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan AKB
b.    Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak.
c.    Mempercepat penerimaan NKKBS
d.   Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kegiatan lain yang menunjang peningkatan kemampuan hidup sehat
e.    Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan letak geografi
f.     Meningkatkan dan membina peran serta masyarakat dalam rangka alih teknologi untuk mampu mengelola usaha usaha kesehatan masyarakat secara mandiri
g.    Meningkatkan peran lintas sector dalam penyelenggaraan Posyandu terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB
            Sasaran dari kegiatan Posyandu :
a.     Bayi yang berusia kurang dari 1 tahun
b.    Balita, usia 1-5 tahun
c.     Ibu hamil, ibu menyusui dan ibu nifas
d.    Wanita usia subur
            Syarat syarat untuk mendirikan Posyandu disuatu
           daerah adalah :
a.     Minimal 100 balita dalam 1 RW
b.    Terdiri dari 120 kepala keluarga diwilayah tersebut
c.     Disesuaikan kemampuan petugas (bidan desa)
d.    Jarak antara kelompok rumah, jumlah kepala keluarga dalam 1 tempat/ kelompok tidak terlalu jauh.
Sistem yang digunakan pada pelaksanaan Posyandu biasanya menggunakan sistem lima meja yang meliputi :
a.     Meja 1 : pendaftaran, pencatatan bayi, balita, ibu hamil, ibu meneteki, pasangan usia subur
b.    Meja 2 : penimbangan berat badan
c.     Meja 3 : pengisian KMS
d.    Meja 4 : diketahui berat badan anaik naik/turun,ibu hamil dengan resiko tinggi, pasangan usia subur yang belum menjadi akspetor KB, penyuluhan kesehatan, pelayanan pemberian makanan tambahan, oralit, vitamin A, tablet zat besi, kondom, pil KB untuk kunjungan ulang
e.     Meja 5 : pemberian imunisasi, pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, pelayanan KB IUD/ suntik
  1. Polindes
Pondok bersalin adalah suatu tempat yang didirikan oleh masyarakat atas dasar musyawarah, sebagai kelengkapa dari pembangunan kesehatan masyarakat desa, untuk memberikan pelayanan KIA dan KB. Pondok bersalin dikelola oleh bidan di desa bekerja sama dengan dukun bayi, serta dibawah pengawasan dokter puskesmas setempat. Pertolongan persalinan yang ditanganin di pondok bersalin adalah persalinan normal.
a.       Syarat pondok bersalin
1)      Ada bidan dan tinggal di desa
2)      Tersedia sarana dan prasarana untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi bidan antara lain:
a)      Bidan KIT
b)        IUD KIT
c)         Sarana imunisasi dasar dan imunisasi ibu hamil
d)        Timbangan berat badan ibu
e)         Pengukur tinggi badan
f)         Infuse set dan cairan dextrose 5% NaCl 0,9% obat-obatan sederhana dan uterotonika.
g)        Buku-buku pedoman KIA, Kbh, dan pedoman kesehatan lainnya.
h)        Incubator sederhana
i)          Pencatatan dan pelaporan KIA
j)        Penyediaan air bersih
k)      Ventilasi cukup
l)        Penerangan cukup
m)    Tersedia sarana pembuangan air limbah
n)      Ukuran 3x4 meter persegi
o)      Lingkungan pekarangan bersih
3)      Memenuhi persyaratan rumah sehat antara lain :
a)      Penyediaan air bersih
b)      Ventilasi cukup
c)      Penerangan cukup
d)     Tersedia sarana pembuangan air limbah
e)      Ukuran 3x4 meter persegi
f)       Lingkungan pekarangan bersih
4)      Lokasi dapat dicapa dengan mudah oleh penduduk sekitarnya dan mudah dijangkau oleh kendaraan roda empat
5)      Ada tempat untuk melakukan persalinan dan perawatan postpartum minimal 1 tempat tidur
b.      Tujuan polindes mandiri
1)   Umum
Memperluas jangkauan dan mutu pelayanan dan mendekatkan pelayanan KIA termasuk KB kepada masyarakat juga sebagai informasi kesehatan tingkat desa.
2)   Khusus
a)    Meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan antenatal dan persalinan normal bekerja sama dengan fasilitator desa.
b)        Meningkatkan kemitraan dukun bayi
c)        Meningkatkan konsultasi dan penyuluhan kesehatan bagi ibu dan keluarganya, khususnya dalam program KIA, KB, gizi, imunisasi dan pelayanan, penangggulangan diare dan ISPA.
d)       Meningkatkan pelayanan kesehatan bayi dan anak serta pelayanan kesehatan lainnya oleh bidan sesuai dengan kewenagannya.
c.       Fungsi polindes mandiri
Fungsi polindes mandiri adalah :
1)      Sebagai tempat pelayanan kesehatan ibu termasuk pelayanan medis KB.
2)      Sebagai tempat informasi kesehatan di tingkat desa ( untuk konsultasi, penyuluhan, dan pendidikan kesehatan bagi masyarakat, dukun bayi dan kader)
d.      Kegiatan yang dilaksanakan
Kegiatan yang ada dipolindes diatur oleh bidan desa bekerjasama dengan dukun paraji dan kader (posyandu, KPKIA) juga dengan fasilitator desa. Kegiatan ini meliputi :
1)      Memeriksa kehamilan termasuk memberikan imuniasasi TT pada ibu hamil dan deteksi diri kehamilan.
2)      Menolong persalinan normal dan persalinan dengan resiko sedang.
3)      Memberikan memberikan pelayanan kesehatan ibu nifas dan ibu menyusui.
4)      Memberikan pelayanan kesehatan neonatal, bayi, anak balita, dan anak sekolah serta imunisasi dasar pada bayi.
5)      Memberikan pelayanan keluarga berencana
6)      Mendeteksi dan memberikan pertolongan pertama pada kehamilan dan persalinan yang beresiko tinggi baik ibu maupun bayinya.
7)      Menampung rujukan dari dukun bayi, kader, posyandu, dasa wisma/KP-KIA
8)      Melaksanakan rujukan dukun bayi, kader, dasa wisma/KP-KIA
9)      Memberikan penyuluhan kesehatan dan gizi
10)  Mencatat dan melaporkan hasil kegiatan ke Puskesmas.
e.       Pembinaan dan pengawasan
Sarana yang memberikan pelayanan kesehatan di desa, secara umum.
f.       Pembiayaan
Untuk pelaksanaan polindes dipungut oleh pengelola yang ditetapkan oleh masyarakat secara mufakat
g.      Perizinan
Diadakan pengajuan regulasi/ legalisasi oleh pemerintah daerah.
h.      Pencatatan dan pelaporan
Dilaksanakan seperti yang berlaku untuk praktek bidan
3.      KB KIA
Pengelolaan program KIA bertujuan memantapkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan KIA secara efektif dan efisien. Pemantapan program pelayanan KIA dewasa ini diutamakan pada kegiatan pokok sebagai berikut :
a.    Peningkatan pelayanan antenatal care disemua fasilitas pelayanan dengan mutu sesuai standart dan menjangkau seluruh sasaran.
b.    Peningkatan pertolongan persalinan ditujukan kepada peningkatan pertolongan oleh tenaga kesehatan kebidanan secara berangsur
c.    Peningkatan deteksi dini dini rsikjo tinggi/komplikasi kebidanan baik oelh tenaga kesehatan mauoun di masyarakat oleh kader dan dukun bayi serta penanganan dan pengamatan secara terus menerus.
d.   Peningkatan penanganan komplikasi kebidanan secara adekuat dan pengamatan secara terus menerus oleh tenaga kesehatan
e.    Peningkatan pelayanan neonatus dan ibu nifas dengan mutu sesuai standart serta menjangkau seluruh sasaran.
4.      Dasa Wisma
Kelompok ibu dari 10 rumah yang bertetangga dimana kegiatannya diarahkan untuk meningkatkan kesehatan keluarga seperti arisan, pembuatan jamban, sumur, Pengembangan dana sehat (PMT, pengobatan ringan, membangun sarana sampah dan kotoran)
5.      Tabulin
Tabulin adalah uang yang dikumpulkan oleh ibu hamil dan disimpan sendiri di rumah, di bank atau dibidan yang akan membantu persalinan. Selain berbentuk uang, simpanan dapat berbentuk hewan ternak, emas, dsb yang ketika waktunya tiba dapat dijual dan hasilnya digunakan untuk biaya persalianan
Ditambahin yang dasolin
6.      Donor Darah Berjalan
Tahapan :
1)      Fasilitasi warga untuk menyepakaati pentingnya tahu golongan darah
2)      Jika warga belum mengetahui golongan darahnya, maka perlu dilakuakn pemeriksaan golongan darah bagi seluruh warga yang memenuhi syarat menjadi donor darah
3)      Hubungi pihak puskesmas untuk menyelenggarakan pemeriksaan golongan darah
4)      Buatlah daftar golongan darah ibu hamil dan tanggal perkiraan lahirnya, kemudian kumpulkann nama warga yang golongan darahnya sama dengan ibu hamil.
5)      Usahakan semua ibu hamil punya daftar calon donor darah sesuia golongan darahnya.
6)      Buatlah kesepakatan dengan calon donor darah untuk selalu siap 24 jam, sewaktu waktu ibu hamil memerlukan transfuse
7)      Buat kesepakatan dengan unit transfuse drah, agar warga yang siap menjadi donor darah diprioritaskan untk diambil darahnya terutama bagi ibu bersalin
Contoh mapingdonor darah
7.      Ambulan Desa
Ambulan desa adalah suatu alat transportasi yang dapat digunakan untuk mengantar warga yang membutuhkan pertolongan dan perawatan ditempat pelayanan kesehatan.
Contoh ambulan desa => seseaikan dengan geograpis dan maping
A.    Pembinaan Peran Serta Masyarakat
     Untuk mengurangi angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi bidan haruslah dapat bekerjasama dengan masyarakat. Masyarakat dapat dibina dalam proses tersebut. Bentuk Masyarakat dapat dibina dalam proses tersebut.
1.       Pendataan sasaran
Pendataan dapat dilakukan oleh masyarakat sendiri dengan dipantau tenaga kesehatan. Data sasaran yang diperoleh antara lain data jumlah ibu hamil, jumlah bayi dan balita, jumlah pasangan usia subur, jumlah ibu nifas, jumlah lanjut usia, dan lain-lain. Data yang ada haruslah data yang baru dan senantiasa diperbarui apabila terjadi perubahan.   
Contoh maping
  1. Pencatatan Kelahiran dan Kematian bayi dan Ibu.
Masyarakat diharapkan lebih perhatian terhadap masyarakat sekitarnya, apabila ada kelahiran atau kematian bayi dan ibu segera dicatat dan dilaporkan. Pencatatan kelahiran berupa kapan kelahiran tersebut, siapa penolong persalinan, dan bagaimana kondisi bayi dan ibu. Untuk pencatatan kematian bayi dan ibu haruslah dicantumkan penyebab kematian tersebut dan pertolongan yang telah dilakukan.
  1. Penggerakan sasaran agar mau menerima/ mencapai pelayanan KIA
Dalam memberikan pelayanan KIA , tidak semua masyarakat mau untuk menerimanya. Cara yang cukup efektif untuk menggerakan masyarakat adalah dari mereka sendiri, mungkin dapat dilakukan oleh kader yang telah dilatih, tokoh masyarakat, tokoh agama. Dalam hal ini seorang bidan haruslah mampu menjaga hubungan baik dengan tokohmasyarakat, tokoh agama setempat.
  1. Pengaturan transportasi setempat yang siap di pakai untuk rujukan kegawatdaruratan
Apabila terjadi kegawatdaruratan di daerah tersebut dan memerlukan tindakan rujukan segera ketempat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi, abulan desa dapat digunakan. Ambulan desa dalam hal ini adalah kendaraan yang digunakan untuk proses rujukan baik milik pribadi yang telah disepakati untuk ambulan desa maupun kendaraan milik bersama, dapat berupa kendaraan bermotor, mobil, becak, dan lain-lain.
  1. Pengaturan bantuan biaya bagi masyarakat yang tidak mampu
Salah satu bentuk bantuan biaya adalah dana social bagi ibu bersalin. Apabila disuatu daerah ditemukan warganya yang secara kemampuan ekonomi kurang akan tetapi dihadapkan pada suatu keadaan yang membutuhkan pelayanan masyarakat, warga bertanggungjawab untuk membantu biayanya. Besar dan bentuk bantuan diserahkan kesepakatan masyarakat, misalnya dikenai iuran rutin setiap bulannya dan dikumpulkan untuk KAS kesehatan.
Contoh cara pengumpulan
  1. Pengorganisasian donor darah berjalan
Masyarakat yang siap menjadi donor didata golongan darahnya, alamat dan bagaimana cara menghubungi apabila sewaktu-waktu dibutuhkan donor darah.
  1. Pelaksanaa pertemuan rutin GSI dalam promosi “suami bidan dan desa siaga”

Metoda: Ceramah dan diskusi


Media:
Multi media

LATIHAN MAHASISWA
Tidak ada  evaluasi

2 Menit
KESIMPULAN
1.      Peran serta masyarakat adalah proses dimana individu, keluarga, dan lembaga mansyarakat termasuk swasta dalam mengambil tanggung jawab atas kesehatan diri, keluarga dan masyarakat.
2.       
  1. Pembinaan peran serta masyarakat dilakukan untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi diantaranya :
a.    Pendataan sasaran
b.    Pencatatan Kelahiran dan Kematian bayi dan Ibu.
c.    Penggerakan sasaran agar mau menerima/ mencapai pelayanan KIA
d.   Pengaturan transportasi setempat yang siap di pakai untuk rujukan kegawatdaruratan
e.    Pengaturan bantuan biaya bagi masyarakat yang tidak mampu
f.     Pengorganisasian donor darah berjalan
g.    Pelaksanaa pertemuan rutin GSI dalam promosi “suami bidan dan desa siaga”

Metoda:
Ceramah
3 Menit
EVALUASI
  1. Jelaskan pengembangan wahana/ forum

Metoda:
Tanya Jawab

Media:
LCD
3 Menit
PENUTUP
1.      Menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran hari ini telah tercapai.
2.      Menjelaskan mengenai materi topik yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
3.      Mengucapkan salam
Ceramah
CATATAN:





Tidak ada komentar:

Posting Komentar